Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Kecil di Pedalaman Nganjuk

Belajar tidak berbatas usia, tempat, dan waktu, setidaknya itu yang kami dapat melalui kegiatan Traveling and Teaching atau lebih dikenal dengan sebutan TnT kali ini. Meskipun sudah kesekian kalinya Komunitas 1000 Guru Regional Surabaya menggelar acara demikan, namun di tiap TnT selalu menyajikan pesan tersendiri khususnya bagi para volunteer yang terjun langsung ke pedalaman. TnT#8 yang diadakan oleh 1000 Guru Surabaya kali ini berlokasi di SDN Ngepung 1, Desa Sumbermiri, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Bagi kami yang terbiasa hidup di tengah hingar bingar kota, mungkin akan merasa asing dengan kehidupan desa. akses desa yang lumayan cukup sulit karena harus ditempuh dengan jalan yang ala kadarnya dan belum beraspal, ditambah berada ditengah hutan jati menambah keseruan perjalanan malam kami menuju lokasi TnT. Dalam TnT para volunteer tidak hanya diajak berbagi keceriaan dengan adik-adik di sekolah yang dikunjungi, tetapi juga diajak untuk merasakan kebahagiaan melalui ...

Yang Kita inginkan VS Kita Butuhkan

"Terkadang Tuhan memberikan apa yang manusia butuhkan, bukan apa yang manusia inginkan". Mungkin ada benarnya juga maksud dari kalimat di atas, tidak selamanya apa yang kita inginkan terkabul. malah terkadang kita diberi sesuatu justru tanpa kita sadar itulah yang sebenarnya kita butuhkan. Misalkan saja, saat pertama masuk kuliah, Saya sempat kecewa karena pada akhirnya mau tidak mau Saya harus cukup legowo karena kuliah di perguruan tinggi swasta, bukan perguruan tinggi negeri seperti cita-cita Saya dahulu. Namun ternyata Tuhan berkata lain, ke-kecewaan tadi dibalas manis oleh Tuhan dengan diberikannya Saya teman-teman yang saat ini bisa dikatakan seperti saudara. Bersama mereka Saya lewati masa study 3.5 tahun dengan hasil yang bagi Saya memuaskan. Semua tidak terlepas dari motivasi mereka selama ini, banyak sekali diskusi-diskusi yang membawa banyak pelajaran. Dan akhirnya Saya sadar, ini yang Saya butuhkan. Beda kasus lagi jika dulu Saya tetap teguh dengan ego, mungk...

Punggung

Hari ini matahari masih terbit di sebelah timur, Adzan subuh juga masih terdengar seperti biasa, Angin berhembus sewajarnya, Semua seperti seharusnya. Hanya saja tidak dengan duniaku, Dunia yang berkelumit di dalam ragaku, Tepat di dimensi yang kasat mata, Aku menyebutnya batin. Entah berapa warna-warni yang memenuhinya, Tapi selama ini batinku gemerlap, Dipenuhi serpihan optimis, puing harapan, Dan semburan asa. Ada yang kuat menyalakannya, Aku biasa menyebutnya punggung. Aku terlalu nyaman memandangnya dari belakang, Si punggung itu selalu sama, Tempat batinku ingin pulang walaupun sekedar menatap, Bukan untuk bersandar. Sudah lama si punggung memberi energi terhadap nyala warna-warni dalam batinku, Selama itu pula aku tenang dan optimis hariku baik-baik saja. Tidak saat si punggung itu menghilang, Dia memilih untuk tidak menetap dalam batinku, Diambilnya semua energi yang ada, Seketika batinku gelap, semua warna dengan cepat memudar...

Desember 2015

Seminggu sudah bulan syahdu itu berlalu, masih hangat dalam benakku bagaimana untuk pertama kali rintik hujan jatuh mengenai kepalaku. Masih seperti tahun sebelumnya, Desember membuatku sering merenung. Beberapa kenangan yang masih pekat berlari-lari kecil dalam ingatan, seakan ingin menunnjukkan eksistensinya dalam kejadian mahadahsyat sepanjang tahun ini. Terimakasih dan rasa syukur tertinggi aku haturkan kepada pemilik semesta alam, tak kuasa aku melawan takdirmu, meski hari yang ku lalui kadang tertalu membuatku kepayahan. Satu tahun kesempatan ini amat berarti, setidaknya ini yang ingin aku tulis dalam lembar kali ini. Dalam konteks nyata, aku belum pernah menguji adrenalinku dalam suatu wahana permainan roller coaster, tetapi aku sering menggunakannya sebagai  pemaknaan perjalanan hidupku. Aku ingat saat-saat tertawa seakan menyentuh langit, tapi dengan sekejap keadaan terbalik, aku menjerit ketika terhempas ke bawah.  Tapi di penguhujung Desember ini, aku mengingat...

Jatuh Cinta Diam-Diam #4 - END

Kemauan hati untuk memiliki tertahan sebatas mulut. Terkunci rapat, sekuat apa tak akan bisa terbuka. Tak kan terungkap.. Dia di depan mata, Apa yang bisa ku lakukan kecuali menatap tiap geraknya dari belakang. Tiga tahun, Aku kira sudah padam rasa ini. Ternyata tidak. Dia terlalu betah tinggal di hati, sampai susah membedakan masih atau hilangkah rasa ini. Seperti tidak mau terusik, dia pasrah seperti ini. Tidak lagi menggebu untuk diungkap. Lebih mengalir seadanya. Di tahun ketiga, rasa ini lebih dewasa. Tak seegois dulu yang selalu ingin diungkap. Kali ini dia diam.. Tapi tidak dengan pancaran indra, Air mata kali ini lebih banyak menjelaskan. Pandangan mata lebih sering bertutur. Tersirat, Hanya mampu tersirat. Atau aku mau semua berubah. Jangan.. aku masih terlalu takut menerima kenyataan. Aku belum siap kehilangan lagi, meskipun belum bisa memiliki. Cukup jarak yang menghilangkannya dariku. Jangan sampai semua darinya ikut menghilang. Apa jadinya aku? Semua...

Tentang Kehilangan

Masih tentang kehilangan, Meskipun sudah terbiasa, tapi tetap tidak bisa dianggap biasa. Hay laut, pernahkah kau kehilangan? Kehilangan ombak mungkin, Hay bintang, pernahkah kau kehilangan? Kehilangan sinarmu mungkin, Dan.. oh ada juga api unggun, Pernahkah kau kehilangan? Tapi yang sering aku lihat, kamu yang menghilang. Menyedihkan, aku mencari teman berharap ada yang juga merasakan hal yang sama denganku. Mungkin aku menyedihkan, tapi biarlah.. malam ini saja, aku ingin meratapi kehilanganku. Kapan lagi ceritaku di dengar ombak, langit, bintang,.angin, dan cahaya api unggun sekaligus. Tentang kamu, dia, atau mereka yang pernah ada dan kini tiada. Apapun alasan meninggalkan, dari semula ada lalu hilang, dari semula berwarna kemudian monocrome. Sepi.. Ada yang bilang,jika kita dipisahkan dari seseorang berarti dia bukan terbaik untuk kita. Iya.. mungkin iya.. Tapi jika memang iya? Kenapa rindu masih ada? Aku yang bodoh? Atau rindu memang tak tau diri datangnya? Beberapa...

Senang Berteman Denganmu ☺

Aku serasa dipermainkan waktu. Begitu cepat diputar balikkan. Jeda pertemuan dan perpisahan seringkali terlalu cepat. Belum sempat aku mempersiapkannya, dia sudah datang. Lagi-lagi kenapa diriku belum handal menghadapi hal-hal pasti seperti pertemuan dan perpisahan ini. Bukankah sudah takdirnya yang berjumpa akan berpisah? Bukankah jarak sudah menjadi hal biasa untukku? Lantas mengapa berduka? Mengapa diriku selemah ini. Mungkin aku hanya takut, Aku hanya takut setelah perpisahan kali ini tak ada lagi pertemuan untuk kita.  Aku mungkin takut tak bisa setenang saat aku bertemu kamu. Aku hanya takut menghadapi perubahan tentang kita. Yang mungkin selang beberapa waktu setelah berpisah, hidup kita saling berubah. Kita tak lagi bertemu, Kita tak lagi menjadi teman dekat. Kita jalani takdir masing-masing. Kita hanya kenangan. Hanya segelintir kenangan.. Setidaknya nanti saat kita bertemu lagi, kita bisa sedikit menambah kenangan yang ada dengan yang baru. Tapi jika kita nanti ...